Bias karena efek Ketersediaan



Bias karena Efek Ketersediaan

By Juan Costa from Pexels

Kamu pernah ga ngerasa takut ketika pertama kali naik pesawat? kamu langsung ingat berita-berita pesawat jatung yang dulu pernah ramai di media. Ditambah lagi cerita-cerita firasat buruk keluarga sebelum para calon penumpangnya naik pesewat dan postingan-postingan terakhir para penumpang yang ramai diceritain di media. Semua itu membuat kamu semakin takut untuk naik pesawat. Meskipun sebenarnya, tanpa kamu sadari ketakutan kamu itu gak proporsional dengan risiko yang kamu punya ketika naik pesawat. Padahal sebenarnya transportasi pesawat adalah yang paling aman dibandingkan transportasi lainnya (1). Kalo gitu, kenapa kamu malah merasa takut?

Rasa takut yang kamu alami ketika ingin naik pesawat sebenarnya merupakan contoh dari bias karena efek ketersediaan. Efek ketersediaan timbul karena kemudahan kamu mendapatkan informasi tersebut (2). kemudahan akses informasi tersebut bisa kamu dapatkan  dari TV, sosmed, grup WA, atau bahkan dari ingatan kamu sendiri. Efek ketersediaan ini juga bisa semakin kuat untuk peristiwa-peristiwa  yang sangat membekas/emasional untuk kamu. Seperti hubungan yang buruk dengan mantan, pernah ditipu, trauma masa kecil, atau masalah keluarga. Akhirnya informasi yang kamu mudah akses tersebut menjadi sangat jelas dipikiran kamu dan kamu berpikir bahwa apa yang terjadi di dunia nyata akan seperti apa yang kamu pikirkan.

 So... apa hubungannya sama investasi kita?

Aplikasi untuk Investor

Keputusan investasi kamu juga perlu kamu filter dari bias karena efek ketersediaan. Berita-berita yang banyak tersedia di media sekarang ini tanpa kamu sadari sebenarnya bisa menjadi ancaman untuk kamu malakukan bias ini. Di saat pasar sedang dalam situasi bullish berkepanjangan kebanyakan berita menyampaikan yang baik-baik untuk kamu dan seakan mengonfirmasi keputusan kamu untuk tarus tambah jumlah saham kamu tanpa memerhatikan risikonya. Namun apakah kamu tau sebenarnya yang sedang terjadi? Semakin tinggi harga saham sebenarnya semakin menimbulkan risiko yang lebih besar. Simak kurva ini!

Dow Jones Index Average (DJIA) 1919-1929

Sumber: https://www.macrotrends.net/1319/dow-jones-100-year-historical-chart 


Bagaimana sikap kamu jika menghadapi kondisi bullish berkepanjangan selama 10 tahun seperti ini? mungkin sebagian besar kita akan tergoda untuk menambah uang kita ke dalam bentuk saham. Seperti ada yang berbisik kepada kamu "tambah lagi! tambah lagi!..... lihat kurva itu, kamu gak akan rugi" atau jika tidak, mungkin kita akan merasa menyesal dan berpikir "kenapa tidak menaruh lebih banyak uang di tahun sebelumnya?". Bayangkan saja jika kita berada di tahun 1923, misalkan uang yang kita punya kita sebar ke semua saham milik DJIA maka pada 1927 uang kita sudah menjadi 2 kali lipatnya atau keuntungan sebesar 100%. Hanya dalam kurang dari 5 tahun. Pikiran kita terus terbawa permainan pasar saham untuk manaruh lebih banyak dan dipenuhi oleh pikiran tentang keuntungan. Di sisi lain, kita melupakan aspek risiko yang sedang mengintai kita. Sekarang mari kita lihat kelanjutan kurva DJIA tadi.


Sumber: https://www.macrotrends.net/1319/dow-jones-100-year-historical-chart 

Setelah mencapai puncaknya, nilai DJIA turun terus menerus hingga mencapai titik terendahnya pada tahun 1932. Kemudian berangsur meningkat secara perlahan.  Orang-orang yang membeli saham ketika pasar sedang meningkat tinggi-tingginya nampaknya merupakan orang yang paling sial. Bayangkan saja jika kamu membeli saham ketika nilainya mencapai 6000-an di tahun 1929 maka kamu akan mengalami kerugian berkepanjangan dan baru akan kembali impas pada tahun 1959 atau 30 tahun kemudian. Nilai tersebut belum terhitung inflasi selama periode tersebut. Dengan kata lain, secara real dibutuhkan waktu lebih panjang untuk mengejar hilangnya nilai uang yang kamu miliki saat kamu membeli saham di tahun 1929. 

Pada akhirnya, banyak orang yang menderita karena bias yang ditimbulkan efek ketersediaan. Saat pasar bullish berita baik menjadi berlebihan sebagaimana berita buruk saat pasar bearish. Oleh karena itu, sebagai  investor kita perlu selalu sadar dengan kualitas pengetahuan yang kamu miliki sehingga terhindar dari bias karena efek ketersediaan.


Salam Investor Muda!

Inspired by

Daniel Kahneman. 2011. Thinking Fast and Slow [terj.]. Jakarta (ID). PT. Gramedia Pustaka Utama. hal 144. (2) 









Comments