Bias Karena Efek Halo
Bias Karena Hallo Effect
Menurut Anda apakah masuk akal memberi penilaian yang berbeda terhadap objek yang sama? hanya karena urutan informasi yang kita dapatkan. Percaya atau tidak ternyata hal itu memang sering terjadi di kehidupan kita sehari-hari.
Ketika kita melihat seorang perempuan yang cantik, kemudian kita mengobrol dengannya di suatu pesta dan kita merasa dia memiliki pribadi yang positif dari percakapan yang kita lakukan. Di lain waktu, kita mendapatkan teman kita uangnya tidak pernah dikembalikan setelah dipinjam oleh si perempuan yang kita kenal tersebut. Mungkin kita beranggapan bahwa bisa saja si perempuan memang sedang butuh uang dan belum bisa mengembalikan uang yang dia pinjam.
Sekarang coba bayangkan. Anda sudah diberitahu oleh teman Anda bahwa perempuan yang namanya A telah meminjam uangnya dan tidak pernah mengembalikan uang yang dia pinjam. Lalu di suatu pesta Anda bertemu dengan si perempuan yang diceritakan oleh teman Anda. memang dia cantik dan ketika dia mengobrol dengannya Anda merasa dia orang yang asik. Namun mungkin Anda bisa berkesimpulan bahwa si perempuan memang berusaha untuk dekat dengan Anda untuk memanfaatkan Anda. Kehati-hatian Anda meningkat karena mendapat informasi negatif di awal cerita.
Itulah Hallo Effect. Kita menilai informasi pertama dari suatu objek dengan bobot yang lebih besar daripada informasi setelahnya. Seorang Psikolog bernama Solomon Asch pernah melakukan penelitian tentang pendapat responden terhadap dua orang dengan deskripsi berikut:
Alan ; cerdas - rajin - impulsif - kritis - keras ekpala - suka iri
Ben ; suka iri - keras kepala - kritis - impulsif - rajin - cerdas
Hasil penelitian menunjukkan kebanyakan responden berpendapat bahwa Alan lebih baik daripada Ben padahal jika dibandingkan kedua orang tersebut memiliki ciri yang sama hanya urutan sifatnya yang berbedaa.
Implikasi untuk Investor
Keputusan investasi yang kita buat sering dipengaruhi oleh persepsi kita terhadap perusahaan yang kita analisis. Reputasi perusahaan sebagai informasi pertama yang kita dapatkan mungkin bisa memengaruhi penilaian kita secara tidak proporsional dengan informasi lainnya. Pastikan informasi yang kita dapatkan sudah menyeluruh dengan mencari tahu aspek-aspek lain yang berhubungan dengan perusahaan tersebut, seperti kondisi keuangan perusahaan, EPS, dan harga sahamnya. Buat check list aspek yang perlu kita ketahui dan beri penilaian secara terpisah. Setelah itu bandingkan dengan perusahaan lain di industri yang sama. Dengan begitu, kita bisa berusaha menilai perusahaan lebih objektif dan terhindar dari bias karena Hallo Effect.
Salam Investor Muda.
Inspired by
Daniel Kahneman. 2011. Thinking Fast and Slow [terj.]. Jakarta (ID). PT. Gramedia Pustaka Utama.
Solomon E. Asch, "Forming Impressions of Personality". Journal of Abnormal and Social Psychology 41 (1946): 258-90.
Comments
Post a Comment